Pertama, publik UI menginginkan perubahan dari kondisi yang sudah ‘jumud’ selama ini sehingga memicu wacana dan isu ‘pilihan alternatif’ atau pilihan asal bukan dari ‘tarbiyah’. Kedua, kegagalan dari ‘tarbiyah’ dalam memenuhi ekspektasi publik UI dalam mengemban amanahnya di lembaga publik. Ketiga, gabungan dari kedua sebelumnya ditambah ‘kecerdasan’ strategi marketing kampanye tim Imad-Choky.
Dari tiga pemaknaan itu, saya cenderung ke pemaknaan yang ketiga. Kenapa begitu? Pertama, ‘orang baru’ dengan ‘tema baru’ akan lebih memberikan passion kepada publik dalam menentukan pilihannya.’Tarbiyah’ selama 15 tahun terakhir telah membentuk image dan positioning BEM UI yang cenderung exclusive, segmented dan homogen. Sehingga ketika ada calon lain yang maju dengan oposisi biner, akan menjadi tantangan tersulit buat anak-anak ‘tarbiyah’. Tapi alasan ini masih belum kuat, karena tertolak dengan fakta kekalahan lawan-lawan politik ‘tarbiyah’ selama ini. Alasan pertama akan kuat jika memang performa kader-kader ‘tarbiyah’ di lembaga publik seperti BEM UI ternyata under-performance dan tidak memenuhi ekspektasi publik.
Jika memang demikian, apa bisa disimpulkan bahwa performa kader-kader ‘tarbiyah’ under-performance? Saya jawab: iya. Kenapa saya jawab iya? Sederhana saja. Coba Anda lihat siapa orang-orang berpengaruh dibelakang Imad. Siapa yang menjadi agitator, stimulator atas kemajuan Imad? Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah mantan ‘aktivis-aktivis’ dan ‘pimpinan’ gerakan ‘tarbiyah’ yang juga kecewa atas performa kader-kader ‘tarbiyah’.
Mereka adalah para BPH dan orang-orang lingkar terdekat yang melihat detik demi detik kinerja para kader ‘tarbiyah’ itu memimpin lembaga publik. Jika orang ‘dalam’ dan ‘terdekat’ saja kecewa, bagaimana dengan orang ‘luar’ dan ‘ terjauh’ yang hanya mendengar berita-berita miring dari sumber yang tidak jelas? Penjelasan saya ini memang terlalu simpilstis dan sangat experimental-thinking. Saya tidak melakukan penelitian yang empirik disini. Tapi, menurut saya penjelasan ini cukup bisa dipertanggungjawabkan secara logis.
Tapi dua alasan itu tidak akan bisa menjelaskan kemenangan Imad-Choky jika ternyata strategi marketing Imad-Choky tidak bagus dan straight-knocking terhadap Farid-Tino. Pesan tagline kampanye Imad-Chocky ‘Progressive-Inclusive’ sangat tepat dan mengena sasaran baik ke benak publik maupun ke lawan. Tagline ini memenuhi dua sasaran sekaligus. Pertama, keinginan dan ekpektasi publik akan orang baru yang ‘Beda!’ dari sebelum-sebelumnya. Kedua, diferensiasi terhadap positioning lawan yang memiliki positioning publik sebagai ‘incumbent-exclusive’. Dan satu hal lagi yang genial: hyper-marketing sosok pribadi Choky yang sukses menguasai heart-share dari women-market, yang mana ini tidak dilakukan (padahal bisa direkayasa, ed) oleh tim Farid-Tino.
Terlepas dari penjelasan ini semua, saya pikir anak-anak ‘tarbiyah’ haruslah berlapang dada dan belajar dengan kekalahan ini jika ingin tetap ‘berkuasa’. Gerakan ini tidak boleh terjebak dalam paradigma ‘the enemey is out of there’. Sebuah paradigma yang menyebabkan sikap BEJ (Blame, Excuse and Justify). Akan lebih bagus jika momen kekalahan ini menjadi tipping point perbaikan secara menyeluruh dari sistem, kultur, paradigmatik, sikap, filosofis dan praxis gerakan ini. Momen ini juga bisa menjadi refleksi: Sudahkah gerakan ini memiliki tempat di ‘hati’ publik UI’? Atau yang lebih sederhana lagi: sudahkah gerakan ini mampu memenuhi ekspektasi para kader dan simpatisannya?Jika belum, maka ini akan menjadi PR besar gerakan ini.
Bagi Imad-Choky, kemenangan Pemira IKM ini, justru menjadi tantangan yang sangat berat. Mereka harus mampu memenuhi besarnya ekspektasi publik kepada mereka. Jika seandainya mereka gagal dalam memenuhi ekspektasi tersebut, maka mereka akan mendapatkan ‘hukuman’ moral yang berat dari publik, lawan dan bahkan kawan mereka sendiri. Jika memang nantinya ternyata performa Imad-Choky justru jauh lebih jelek dari rezim sebelumnya, tidak menutup kemungkinan manuver politik kampus yang lebih ekstrem akan terjadi. Wallahu A’lam Bishowab.

0 komentar:
Posting Komentar